cinta


Herman memacu motornya dengan kencang. Ia memang sedang gelisah hatinya sehingga dengan memacu motornya sekencang mungkin ia berharap bisa menghilangkan rasa gelisah itu. Sayangnya justru yang terjadi sebalik. Melewati pertigaan sukasari ia hampir saja celaka, gara-garanya ia mencoba menyalip truk sayang truk tersebut malah sengaja tak mau memberi jalan sementara dari arah depan bus Sinar Jaya memberikan lampu kedip bahwa ia harus menghindar. Terpaksa Herman membatalkan niat dan membelokkan stir ke kiri. Hampir saja ia menabrak seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat, beruntung ia berhasil menguasai nya dan kecelakaan fatal pun tak terjadi.
“Maaf mbak, tak sengaja.” Herman langsung meminta maaf kepada sang perempuan yang mukanya pucat pasi didepannya. Sang perempuan hanya mengangguk-angguk lantas pergi membuat Herman bersyukur. Herman menatap kepergian perempuan berbaju putih itu. Ah, Reny juga suka memakai baju berwarna putih. Karena Reny pula ia kesini. Tiba-tiba ingatan Herman kembali ke masa lalu.
Herman berkenalan dengan Reny karena mereka kuliah yang sama di Bandung dan kebetulan satu jurusan. Tak susah bagi Herman mendapatkan Reny karena Herman memiliki jurus jitu yaitu wajahnya yang ganteng dan bicaranya yang manis dengan mudah meluluhkan hati Reny yang merupakan gadis yang datang dari desa yang mana belum mengenal banyak sifat lelaki. Hubungan itu seperti nya akan mulus saja karena orang tua Reny pun menyetujui hubungan mereka bahkan Herman kadang merasa kikuk sebab orang tua Reny menyambut berlebihan jika Herman datang dengan mobil milik ayahnya.
~ ~ ~
Tiiit..tiiitt suara klakson yang berada dibelakangnya menyadarkan Herman dari lamunan nya. Segera ia menstarter kembali motor miliknya. Ah, kini hanya motor tua ini saja yang tersisa. Menjelang Cileunyi saat siang hujan turun dengan deras memaksa Herman menepi. Dilihatnya sebuah rumah makan yang agak luas parkiran nya. Segera saja ia berteduh yang diikuti oleh beberapa orang lainnya dibelakang.
“Permisi pak, numpang neduh.”
“Mangga.” sahut sang pemilik rumah makan ramah.
Hujan turun lebih deras, sesekali petir menyambar. Ah, Herman teringat lagi dengan suasana seperti ini. Bedanya saat itu ia hanya berdua saja dengan Reny ditempat kost Herman. Mereka berdua habis menonton film di bioskop, sialnya saat pulang dengan motor hujan turun dengan deras diselingi suara petir sesekali. Reny sebenarnya ingin berteduh tapi Herman memaksa pulang. Bentar lagi juga sampai, ujar Herman dan Reny menurut saja.
“Sayang, minum kopi dulu ya biar hangat.” Herman masuk kedapur dan Reny menerima nya dengan mengucapkan terima kasih. Saat itu angin bertiup dan tubuh Reny pun menggigil kedinginan.
Tiba-tiba sepasang tangan memeluk nya dari belakang membuat Reny terkejut.
“Ah kang Herman. Jangan ah kang.” seru Reny.
“Aku kedinginan sayang.” seru Herman lantas mempererat pelukannya. Reny sebenarnya ingin menolak tapi rayuan Herman lama-lama membuat ia kalah juga dan akhirnya mereka pun melakukan perbuatan terlarang. Dan ternyata malam itu hanyalah permulaan saja, karena saat tempat kost Herman sepi maka mereka pun asyik bermain cinta. Akibatnya pun dapat ditebak, Reny pun hamil.
“Kang, aku udah telat dua bulan.” Reny berbisik ditelinga Herman ketika mereka selesai bermain cinta untuk kesekian kalinya.
“Apa,..” walau Reny berbisik dengan pelan tapi ditelinga Herman seperti petir yang menyambar.
“Kenapa kaget, apa kau pikir aku berbohong. Apa kau mau berkelit dari tanggung jawabmu.” Isak tangis Reny pun mulai muncul.
” oh tidak sayang, aku hanya kaget saja.”
“Akang akan bertanggung jawab bukan?” Herman mengangguk. Reny menangis senang dan segera memeluk Herman.
~ ~ ~
” mau bikin kopi apa tidak?” seruan pemilik rumah makan membuat Herman tersadar dari lamunan nya. Ah, perjalanan masih agak jauh ke Bandung. Sebaiknya ia  istirahat dulu apalagi hujan masih turun dengan deras. Herman pun mengangguk dan pemilik rumah makan pun kedalam membuatkan pesanan Herman. Herman mengitarkan pandangan nya. Rumah makan ini sudah penuh dengan orang yang berteduh termasuk di halaman depan. Dilihatnya seorang nenek sedang meringkuk kedinginan, pasti karena kehujanan dan tak jauh darinya tampak seseorang, mungkin cucu nya sedang  menuangkan teh hangat kedalam mulutnya. Melihat nenek itu maka Herman pun kembali melamun.
Setelah Reny memberitahu bahwa ia sedang hamil maka dua hari kemudian Herman mengajak nya ke suatu tempat. Hendak kemana kang,  Reny bertanya. Ah, nanti kau juga tahu sahut Herman dan Reny pun hanya bisa menurut.
Ternyata Herman mengajaknya ke pinggiran kota Bandung. Herman ternyata mengajaknya ke sebuah rumah kecil yang agak kumuh. Pemiliknya ternyata seorang nenek yang sudah renta. Reny disuruh tiduran disebuah dipan. Walau agak ragu-ragu tapi Reny menurut saja. Saat itu lah sang nenek memencet perutnya dengan keras.
” jauhkan tanganmu dari perut ku nenek terkutuk.” Pekik Reny lantas Reny segera bangkit dan kabur membuat Herman kalang kabut. Herman segera mengejar nya.
“Mengapa, mengapa kau tega lakukan ini kepadaku kang.” Isak tangis Reny pun segera pecah ketika mereka sudah berada di sebuah angkot. Herman sesaat membisu tapi tak lama kemudian ia pun menjawab.
“Maaf kan aku Ren, aku kalut.”
“Tapi mengapa pula kau hendak menggugurkan kandungan ku, anak darah dagingmu sendiri.” Reny berkata setengah berteriak, beruntung angkot yang membawa mereka hanya mereka berdua saja yang naik. Sopir angkot tampak acuh tak acuh didepan.
“Maaf kan aku Ren, aku kalut, aku tak bisa berpikir jernih.” Herman membela diri.
“Aku tahu kang, kang Herman sudah tak cinta aku karena ada Farida kan.”
“Ah, kata siapa. Jangan ngaco kau Reny.” elak Herman. Melihat Herman makin berkelit membuat Reny marah. Segera saja ia turun dari angkot yang kebetulan berada di lampu merah. Sialnya saat Herman hendak turun mengejar lampu sudah kembali berwarna hijau dan supir angkot itu segera tancap gas. Herman hanya bisa memaki lantas turun diseberang jalan, sayangnya jalanan yang padat dan ramai membuat Herman kehilangan jejak Reny.
Farida adalah seorang gadis cantik yang sedang menjadi perbincangan di kampus. Maklum, selain ia anak rektor kampus ia juga pandai bergaul dan juga pandai merias diri sehingga banyak yang mencintai dan jatuh hati padanya, salah satunya Herman. Herman sendiri sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Farida, sayang nya ia tak dianggap sama sekali.
Ketatnya persaingan untuk mendapatkan Farida memang sangat keras. Saat itu Herman sedang buang air kecil di toilet kampus, tiba-tiba Agus, salah seorang teman kampusnya nyelonong masuk ke WC.
“Ada apa Gus,” seru Herman was-was. Maklum, ia sudah dengar kalo akhir-akhir ini ada razia LGBT dan takutnya agus merupakan bagian dari kaum yang menyimpang tersebut.
“Mulai sekarang Her, jangan pernah kau dekati Farida lagi, mengerti?” seru Agus dengan mata melotot.
“Oh, memang nya kenapa?”
” jangan kau berlagak pilon Her, aku tahu kau sudah punya pacar bernama Reny. Jadi sebaiknya kau mundur untuk mendapatkan Farida. Kalau tidak… ” Agus mengamang-amangkan tinjunya.
” kalau tidak kenapa hehehe…” Herman berlagak pilon. Melihat jawaban Herman maka Agus pun geram. Segera saja ia melayangkan tinjunya. Sayangnya Agus salah sasaran. Herman berkelit lantas segera menghujani Agus dengan jurus pencak silat yang diajarkan uwa nya. Agus pun terjerembab ketika sebuah pukulan Herman mendarat telak diwajahnya.
Pokoknya aku harus mendapatkan Farida, tekad Herman. Dan ketika seorang anak manusia sudah bertekad maka jalan pun akan terbuka. Jalan itu didapatkan Herman tanpa diduga.
Saat itu hari sudah sore, Herman memacu motor ninja miliknya secara perlahan, maklum kota Bandung tak kalah macet dengan Jakarta kalo sudah sore akibat dari orang pulang kerja, anak sekolah dan juga mahasiswa yang pulang. Tiba-tiba didengar nya seseorang berteriak meminta tolong, suara yang sudah sangat dikenal nya, karena siang malam herman merindukan suara itu karena itu suara Farida.
” tolong jambret, tolong tangkap jambret itu. Tolonggg.” dilihatnya seorang pria berlari gesit menjauhi mobil Farida. Segera saja Herman memarkirkan motornya lantas mengejar jambret sialan itu karena jambret itu lari kesebuah gang yang tak mungkin dikejar dengan motor. Kejar mengejar pun terjadi dan akhirnya jambret itu terkejar saat terjebak di gang buntu.
” serahkan tas itu kalau mau selamat, kalo tidak…”
“Kalau tidak memang kenapa?” jawab sang jambret dengan menyeringai. Tiba-tiba ia bersuit dan tiba-tiba dibelakang Herman muncul dua orang, salah sartunya dengan membawa pisau.
“Sebaiknya kau pergi anak muda. Jangan kau ganggu kami yang sedang mencari nafkah.” seru orang yang baru datang yang sudah agak berumur, mungkin ia pemimpin nya.
“Enak saja, kalo kau tidak kembalikan tas kekasih ku itu aku akan menghajarmu.”
“Sudah ngapain banyak mulut dengan anak itu, kita hajar saja. ” penjambret itu tampak tak sabaran. Ia pun maju menerjang. Herman berkelit, tiba-tiba orang yang membawa pisau pun maju. Terjadilah perkelahian seru satu lawan dua di gang yang sempit. Herman berhasil menendang jauh pisau milik kawanan penjambret itu dan juga membuat jatuh salah seorang pengeroyoknya. Sayang keberhasilan itu harus dibayar mahal karena tiba-tiba kepalanya dihantam kayu balok oleh pemimpin jambret tersebut membuat ia terhuyung dan ia pun terjatuh.
“Tolong, pak polisi disini jambretnya.” lamat-lamat ia mendengar farida berteriak sebelum Herman pingsan.
~ ~ ~
Herman membuka matanya. Ia berada di sebuah ruangan yang asing baginya. Dilihatnya seorang yang dirindukan Herman ada didepan nya membuat Herman bahagia.
“Dimana ini?”
“Kau ada di rumah sakit.” jawabnya sambil tersenyum manis.
Aduhhh, Herman hendak bangun tapi tak jadi ketika sekujur tubuhnya terasa sakit.
“Kau jangan bangun dulu. Tubuhmu babak belur dihajar oleh para penjambret itu. Untunglah aku datang tepat waktu.” Farida menjelaskan.
“Oh iya, makasih banyak ya.”
“Ih kok malah kamu yang berterima kasih. Seharusnya aku yang berterima kasih karena berkat kamu tas ku berhasil didapatkan kembali.” Farida tersenyum dan tiba-tiba ia mencium pipi Herman membuat Herman terperangah dan rasa sakit disekujur tubuh Herman menghilang.
Setelah kejadian itu Herman dan Farida pun menjadi lengket. Agus pun akhirnya hanya bisa pasrah ketika Herman dan Farida menjadi sepasang kekasih. Herman pun membulatkan tekad untuk melamar Farida.
~ ~ ~
“Apa Man, kau hendak melamar Farida.” Amrana, ayah Herman tampak terkejut ketika Herman mengutarakan niatnya.
” iya ayah. Kumohon ayah merestui kami.” jawab Herman dengan mantap.
“Apa tak ada wanita lain Man, kumohon kau pikirkan dulu matang-matang permintaanmu itu.” keluh Amrana. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman maka Amrana tahu wanita seperti apa yang akan jadi menantunya itu. Herman sudah beberapa kali mengajak Farida ke rumahnya dan Amrana jadi tahu sifat nya. Jujur saja, Amrana kurang suka dengan sifat calon menantu nya tersebut. Selain itu Amrana juga minder karena calon besannya merupakan salah satu orang kaya di Bandung, jauh dibandingkan dengan dirinya yang hanya pegawai PNS.
“Aku sudah berpikir panjang ayah, pokoknya selain dengan Farida maka aku tak akan menikah. Aku sangat cinta dan sayang kepadanya ayah.” Amrana hanya bisa mengelus dada mendengar penuturan anaknya. Walau berat hati akhirnya ia pun mengabulkan permintaan sang anak.
Dua bulan kemudian pesta pernikahan Herman dan Farida digelar dengan mewah di Bandung. Maklum, Farida merupakan anak perempuan satu-satunya. Oleh orang tua Farida, Herman dan Farida diberi sebuah rumah kecil ditengah kota Bandung dan juga tiket untuk bulan madu ke Paris. Tentu saja Herman makin bahagia dan makin mencintai Farida.
Bulan demi bulan pernikahan mereka berjalan lancar. Semua kebutuhan rumah tangga mereka terpenuhi karena orang tua Herman sudah membekali Herman dengan uang yang banyak karena ia tahu seperti apa menantunya tersebut. Sayang memasuki tahun kedua pernikahan mereka mulai oleng. Penyebabnya apalagi kalo bukan kebiasaan Farida yang suka boros dalam membelanjakan uangnya. Apalagi bekal ijasah Herman hanya cukup untuk kerja yang hanya bergaji pas-pasan. Sedangkan Farida tentu saja tidak mau bekerja, itu tugas suami katanya dan Herman hanya bisa mengiyakan saja.
Masuk tahun ketiga pernikahan mereka sudah tambah parah. Semua tabungan Herman dari Amrana sudah habis sementara gaya hidup Farida justru makin parah. Hobi jalan-jalan ke mall, belanja baju terbaru dan juga suka ke salon tak mungkin bisa ditutupi oleh gaji Herman. Tiap diingatkan maka akhirnya pasti pertengkaran.
“Ida, kumohon mulai sekarang kau mengiritlah. Kau kan tahu kalau gaji aku hanya segini. Aku minta kau mulai sekarang kurangi kebiasaan ke mall atau belanja ya sayang.”
” apa kau bilang Her, kau tahu sejak aku menikah denganmu maka aku sudah banyak berhemat tahu. Aku belanja ke mall cuma seminggu 2x sedangkan dulu aku tiap hari.” bantah Farida dengan sengit.
“Aku tahu, tapi untuk apa kau belanja makanan ke mall yang berharga mahal. Mending ke pasar saja, selain lebih dekat juga lebih murah.”
“Aku kepasar, gengsi dong. Pokoknya aku tak akan pernah mau ke pasar. Kalo kau memang tak sanggup lagi silahkan ceraikan saja aku.” Farida lantas keluar kamar sambil membanting pintu membuat Herman hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan istrinya.
Senja di pantai itu indah dan suasana pantai yang sunyi ternyata tak mampu menghilangkan kerisauan yang ada di hati Herman. Herman memang kerap bke pantai ini kalo ada masalah seperti tadi siang. Akhir-akhir ini pun ia banyak datang kesini karena makin banyak masalah yang menghimpit nya. Ia memang sedang bingung, mau menceraikan istrinya tak mungkin karena ia sangat mencintai nya sedangkan untuk menuruti kemauan sang istri juga sangat berat. Ia sudah tak mungkin lagi meminta uang dari sang ayah karena adik adik nya sudah memperingatkan kalo ia sudah menghabiskan banyak uang keluarga.
“Herman, lekas ikut aku.” tiba-tiba Amrana muncul membuat Herman terkejut. Dari mana ayahnya tahu tempat itu dan juga untuk apa ayahnya mengajaknya. Tapi keheranan Herman akhirnya lenyap karena ia tahu mengapa ayahnya mengajaknya.
Mereka menuju pusat kota menuju sebuah hotel. Herman heran, untuk apakah ayahnya mengajak ke sebuah hotel. Tapi keheranan itu lenyap seketika ketika ia mendengar suara cekikikan perempuan ditimpali oleh suara seorang lelaki. Suara yang sudah sangat dikenal nya karena itu suara Farida.
“Jahanam.” Herman langsung mendobrak pintu hotel. Dilihatnya sang istri pujaannya sedang bugil berhasil masyuk dengan lelaki yang juga sudah dikenalnya yaitu Agus. Darah Herman langsung menggelegak. Segera saja Agus dihujani bogem dan tendangan, sementara Farida menangis menjerit-jerit karena tak menyangka Herman akan tahu perbuatannya.
Tiba-tiba seseorang menarik tangan Herman. Herman tak perduli tapi tenaga tarikan yang lebih kuat membuat Herman kalah. Ternyata yang menarik tangannya adalah Amrana. Amrana menarik untuk keluar ruangan. Sebenarnya Herman tak mau karena ia belum puas menghajar Agus tapi karena tenaga tarikan bapaknya lebih kuat maka akhirnya ia mengalah. Mereka keluar hotel dan menjauh dari keramaian. Herman langsung bersujud di kaki sang ayah sambil menangis tersedu-sedu.
“Maafkan ayahmu ini nak, bukan ayah ingin kau terluka tapi ayah tak tega kau dibohongi istrimu terus.” jelas Amrana sambil mengusap air mata yang juga keluar. Hati orang tua mana yang tak sedih melihat nasib anak kesayangannya sengsara.
“Tidak ayah, ayah tidak bersalah. Aku lah yang salah karena tidak menuruti nasehat ayah dulu.” akhirnya mereka pun pulang dengan hati remuk redam.
Tiga hari Kemudian datang seorang pengacara. Pengacara yang diutus oleh keluarga Farida untuk mengurus perceraian mereka. Farida memang tak berani pulang sejak kejadian tersebut. Melihat surat cerai yang diletakkan diatas meja Herman geram. Segera saja ia menandatangani surat itu tapi lantas disobek dan dilemparkan ke muka sang pengacara membuat pengacara sial itu segera lari keluar rumah sambil terkencing-kencing. Herman hanya bisa menangis karena tak menyangka kalo begini akhir dari pernikahan nya dengan Farida.
“Kak, ini foto siapa?” teriakan sang adik membuat Herman terkejut. Sejak kejadian itu Herman memang pulang kembali ke rumah orang tua nya yang menyambut hangat. Saat itu Herman sedang membereskan kamar tidurnya yang dulu ditempati saat masih kuliah.
Herman lebih terkejut lagi melihat foto tersebut. Foto itu adalah foto seorang gadis cantik bertopang dagu dengan baju berwarna putih kesukaannya. Melihat foto tersebut maka air mata Herman pun berlinang. Mungkin kah kesengsaraan yang Herman alami akibat dari pada dosanya meninggalkan Reny.
” lho, kok malah menangis. Maaf kak aku tak tahu kalo foto itu membuat kakak sedih.” adiknya langsung sedih melihat Herman mengalirkan air mata. Herman menggeleng lantas ia pun menuturkan foto tersebut. Sang adik terkejut mendengar penuturan sang kakak. Ia pun memberikan saran agar kakaknya sebaiknya meminta maaf dan juga sebaiknya bertanggung jawab. Herman mengangguk dan ia pun akhirnya kini mempunyai tujuan hidup lagi.
~ ~ ~
Herman melihat kembali foto yang digenggamnya. Saat itu hujan sudah reda dan hanya meninggalkan rintik rintik gerimis yang tak terlalu mengganggu. Dilihatnya sudah banyak orang yang berteduh tadi melanjutkan perjalanannya. Herman menyimpan kembali foto tersebut lantas membayar minuman yang tadi dipesannya. Ah, Reny. Maafkanlah aku, sejak dari kemarin ia mencari kabar tentang Reny. Agak susah juga ia mencari kabar tentang dirinya karena sudah lama ia menghilang. Tak tahu, mungkin ia kembali ke kampung begitu kata teman dekatnya saat di kampus dulu. Herman juga menduga begitu, karena itulah ia kini hendak menuju ke kampungnya. Entah apa yang akan terjadi. Bisa jadi Reny sudah berkeluarga. Biarlah, apapun yang terjadi ia akan pasrah saja menerima nasibnya. Syukur kalo Reny masih mau mempertemukan ia dengan anaknya. Ah, pasti sudah besar sekarang kau nak.
Herman tiba di kampung orang tua Reny saat hari sudah sore. Ternyata ibu Reny menyambutnya dengan biasa, tidak dengan caci maki seperti yang disangka nya.
“Eh tumben nak Herman main kemari. Ada apa nak?” seru nya.
Herman pun kikuk melihat sapaan tuan rumah. Akhirnya ia pun berterus terang kalo ia ingin bertemu Reny. Untuk meminta maaf, kalo perlu ia bersujud pun akan dilakukannya asal Reny mau menemui nya. Ibu Reny, yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya pun menghela nafas.
Ia pun bercerita. Ayah Reny langsung shock mendengar bahwa anak yang disayang dan dibangga-banggakan malah hamil. Sakit jantung yang lama diindapnya kambuh dan tak lama kemudian ia pun meninggal.
“Kau tahu nak, di keluarga besar kami hanya Reny seorang yang kuliah. Ia diharapkan akan membawa harum keluarga kami. Demi kuliah dia, Kakek sampe menjual sawah untuk biaya kuliahnya. Adik-adiknya semuanya juga membanggakan. Tapi kau malah menghancurkan harapan kami.” air mata pun jatuh di kedua pipi yang keriput itu membuat Herman sangat menyesal. Ah, tak disangka ia menghancurkan harapan banyak orang akibat ulahnya dulu.
“Maafkan aku ibu. Kalo boleh tahu, mengapa ibu masih mau menerima ku. Seharusnya aku dicaci maki, diusir.” sahut Herman tak mengerti.
“Kalau dulu kau datang nak, mungkin bukan cuma diusir tapi kau mungkin juga dibunuh.”
” kalau begitu mengapa ibu tak melakukan itu.” jawab Herman penasaran.
“Waktu, seiring waktu maka kini luka kami telah kering dan juga sembuh.” sahutnya bijaksana.
” kalo begitu, dimanakah kini Reny berada Bu?” karena dari tadi ia tak melihatnya. Ah, mungkinkah saking bencinya hingga ia tak mau menemui ataukah ia sembunyi.
“Ia ada dibelakang rumah. Kalau kau ingin menemuinya, pergilah.” jawab sang ibu dengan tersenyum
Melihat hal itu maka Herman pun langsung menuju ke belakang rumah tersebut. Reny oh Reny, maafkanlah segala kesalahanku selama ini. Kalau kau Sudi memaafkanku dan juga mau menerima ku maka aku berjanji akan menjagamu selamanya. Tak lama kemudian Herman sampai dibelakang rumah tersebut. Tapi ia tak melihat Reny, yang ia temui hanyalah sebuah gundukan tanah yang hampir rata dan sebuah papan nisan.
“Apa artinya ini Bu, apa Reny bersembunyi karena mengetahui kedatangan saya.” Herman berkata tak mengerti.
“Ketahuilah nak Herman. Reny meninggal waktu melahirkan bayinya. Sakit hatinya karena kau meninggalkannya dan juga ia malu pada orang kampung membuat ia tak kuat menahan diri. Ia mati membawa serta bayi dalam kandungan nya.” jelas sang ibu sambil berurai air mata.
Mendengar penjelasan tersebut maka Herman pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Comments

Popular posts from this blog

Cara aktivasi sim card Mi Message di xiaomi

Cara mengatasi Mi Remote yang tak berfungsi

Cara sinkronisasi subtitle di MX player

Cara memunculkan emoticon di keyboard bawaan xiaomi

Cara menghapus aplikasi yang bandel di xiaomi